Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

Secangkir Rindu: Nikmati dan Teguklah di Tengah Aroma Hujan!


November rain kembali mengalun, setelah lama tak kutemui hujan pada malam panjang gersang kemarin.

Apa kabar? Masihkah menyebut aku dan kau dengan kita? Aku masih disini, di tempat yang sama, dengan cangkir kopi yang sama, bolehlah angin menghembuskan rinduku padamu disana, tak ingin mengusik, hanya menyapa saja.

Seperti yang sudah-sudah, tak henti aku meneguk secangkir rindu yang selalu terasa hangat meski dingin menyeruak. Betapa waktu begitu hebat, meski singkat, nyatanya telah mampu membuatku jatuh hati padamu hanya dalam beberapa kali tatap.
Aku penasaran, apakah kau masih meneguk cangkir rindumu dengan aroma dan rasa yang sama? Apa kau juga penasaran dengan rasa cangkir rinduku?

Rupanya, gerimis asin yang jatuh dan mendarat pada cangkirku telah menambah rasa kenikmatan seduhan kopiku. Mau mencobanya? Pernahkah kau menikmati kopi asin pada malam dingin di tepian jendela kamar? Inilah yang setiap hari kulakukan, mencoba untuk membunuh rindu yang semakin liar menjalar memenuhi sekat-sekat kekosongan hati yang  tertawan. 

Kuhirup aroma hujan yang menyegarkan sejenak garba penciumanku. Kutatap jalanan basah dengan lalu lalang orang, pulang dari lelah untuk mendaratkan pelukan di rumah yang hangat. Betapa aku merindukan hal itu. Sudah habis masaku mendustai hati. Inilah yang terjadi, bagaimana bisa aku tak menemuimu di malam hujan, sedangkan kau menjadi satu-satunya alasan kerinduan yang ingin kutemui saat hujan datang.

Bintang-bintang meredup, bulan apalagi, mataku terus mengabur, berkaca basah, pecah dan melebur dalam hampa. Aku tak pernah benar-benar takut akan resiko mencintai seperti ini. Bukankah cinta pada akhirnya selalu membuat orang berubah? Dari waras menjadi gila, dari awas menjadi buta, dari lemah menjadi kuat, dari sedih menjadi bahagia. Dan banyak perubahan-perubahan yang tak bisa kujelaskan. Terlalu ajaib, terlalu misteri.

Lalu sudahkah kau merasakan perubahan itu? Kita tak pernah berjanji, kau pun tahu aku tak pernah menyukai butir-butir janji manis yang semu dan hanya menguap pada letupan bibir. Buatku tak semudah itu, bahkan kesetiaan saja tak cukup menjaga dua hati tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan. Klise? Memang. Tapi jika untuk mengikat janji saja begitu rapuh, lalu bagaimana bisa memperjuangkan untuk bersatu?

Sekarang harus bagaimana lagi? Mengetukmu berkali-kali juga tak kunjung membuat kita bersua, tapi kau tenang saja, aku bukanlah orang yang dengan mudah menyerah tanpa ada alasan jelas untukku benar-benar meninggalkan. Tapi selayaknya kau, aku juga butuh satu kepastian. Jika merasa sama, mengapa harus mengelak, mengapa harus melawan hati? Meleburlah, mari berjalan beriringan dan saling menggenggam tangan.

Entah ini sudah ke berapa kali seduhan. Ku ingin kau menikmatinya pula, secangkir rindu dengan dua sendok kehangatan, dan satu sendok kemurnian. Nikmati dan teguklah ditengah aroma hujan.

-Rain, 181115

Minggu, 12 Oktober 2014

Senso



Memandangmu memang indah
Benarkah dari mata turun ke hati?
Seperti ada mawar merah
Yang perlahan mekar dari jiwa
Dan kupu-kupu yang bergelayut
Menggelitiki perut
Rasa ini, ku suka
Andai jua kau sama
Tapi, mengagumimu
Adalah sebuah rahasia
Dari jauh ku berharap
Kau melangkah derap
Menujuku
Memetik setangkai mawar
Yang kian menjalar
Merubung seluruh rasaku
Teruntuk hanya padamu

Victoria





:”Ini bukan tentang siapa-siapa, ini tentang banyak aku, sedikit kamu, dan mereka.”




“Katanya, hidup itu seperti laut yang selalu betemu pasang surut”
Hidup memang tak pernah ada yang mudah. Tuhan pun sudah mengatur pada setiap garis tangan manusia. Siapa yang bertahan dalam setiap kebaikan, maka ia akan mendapatkan balasan kebaikan. Begitu pula sebaliknya, siapa yang menanam keburukan maka ia akan menuai buah yang buruk pula.
Tapi, hakikat seorang manusia pasti tak luput dari rasa bosan dan sebuah pemberontakan terhadap peraturan, bahkan terhadap hati kecilnya sendiri. Karena rasa bosan itulah, kita lebih senang berpura-pura, menjadi munafik karena sebuah alasan tak ingin di anggap remeh orang lain. Sampai-sampai tak sadar, jika kita tak pernah menjadi diri sendiri.
Jiwa yang sudah terpengaruh dengan omongan orang yang sebenarnya tak perlu didengarkan, menjadikan kita selalu terbebani dengan pikiran-pikiran berat yang sebenarnya tak perlu dipikirkan. Maka satu-satunya balas dendam terbaik adalah sebuah pembuktian. Namun terkadang untuk mewujudkan semua yang diinginkan tak jarang kita menghalalkan segala cara dan tak peduli jika sebenarnya kita telah keluar jalur melanggar peraturan Tuhan. Lantas apakah Tuhan masih akan melihat kita ketika kita sama sekali tak merasa jika sudah berkhianat?. Jelas, dosa ada di setiap diri kita. Seperti kertas putih yang perlahan hitam karena noktah-noktah dari setiap apa yang kita lakukan.
Hidup selalu berputar. Dan kita pun senantiasa bermetamorfosa. Aku, kamu, kita. Semua, pasti pernah mengalami kegagalan, kesalahan, dan bahkan keterpurukan. Berkali-kali gagal itu biasa. Tapi, berkali-kali bangkit itu baru luar biasa. Penyesalan itu sudah pasti. Tapi, memaafkan diri sendiri adalah kunci menemukan jalan yang jauh lebih baik dari yang sudah pernah kita lewati. Dan kebahagiaan telah menanti di ujung untuk kita raih.

“Katanya, cinta itu seperti pasir yang jika digenggam semakin mangkir”
Cinta?
Biar saja para ahli filsafat sok tahu yang memikirkan maknanya sampai berdarah-darah. Haruskah selalu ada alasan di setiap kata cinta?. Buatku cinta adalah satu. Cinta, ya itulah maknanya.
Cinta adalah soal hati. Bukan dilihat dari apa yang kau punya, atau apapun yang telah kau dapatkan. Sekali lagi ku tegaskan, cinta itu dari hati. Jika kau mengatakan mencintaiku karena kau punya segalanya, maka kau belum paham dan belum mengerti bagaimana jika hatiku mencinta. Jangan buru-buru. Belajarlah dulu untuk memahamiku, maka kau akan tahu apa itu cinta. Tentu saja, cinta seperti yang kuharapkan. Tanpa pemanis buatan ataupun asam sitrat sebagai penambah rasa. Alami dan apa adanya.

“Katanya, pelabuhan itu seperti pantai; tempat pertemuan laut dan pasir”
Ada yang bilang: jika cinta ditolak, lalu kemana hati kan berlabuh?. Tak dapat dipungkiri, jika seseoreang memang terkadang khawatir tak mendapatkan cinta sejati. Padahal, sebenarnya yang harus direfleksi kembali adalah diri sendiri. Apakah kamu sudah mengerti mengapa sebuah penolakan harus terjadi?.
Memahami, itulah kuncinya!. Mencoba memahami saja bahkan belum cukup. Sekali lagi aku bilang, seorang wanita adalah seorang yang selalu ingin di dengar bukan hanya menjadi pendengar. Karena dia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Jika dipaksa lurus dia akan patah, tetapi jika dibiarkan bengkok dia akan rapuh. Inilah bagaimana telinga harus memaksimalkan fungsinya untuk mendengar. Dengan mendengar kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan untuk dapat sampai ke hatinya.
Perlahan tapi pasti. Kebanyakan dari wanita adalah realistis. Karena membentuk sebuah komitmen itu tidak main-main. Harus bisa dipertahankan untuk jenjang waktu lama. Maka ibarat bangunan rumah, pondasinya harus kokoh dan kuat agar tidak mudah goyah jika terkena badai.
Dan sampai saat ini, hatiku adalah sebuah pelabuhan yang masih tetap menunggu perahu datang untuk menjemputku dengan cinta sejati dan alami.